Thursday, August 20, 2009

Belajar berumahtangga


Hal yang cukup sulit yang kurasakan selama 'belajar' menjadi seorang istri adalah belajar untuk mengkompromikan ekspektansi tentang "If I do this to him, he should be doing the same amount of that thing to me..." Belajar untuk sadar bahwa setelah 'bulan madu' semua hal yang memang akan kembali berjalan seperti sedia kala, bahwa aku bukan lagi prioritas utamanya 'all the time'...bahwa ia akan kembali sibuk dengan pekerjaannya dan begitu pula saya...mungkin juga jam bersama akan hilang karena ritme jam kerja suami-istri yang berbeda...

Gambaran apa yang seharusnya dilakukan oleh suami-istri mungkin jadi gak sama karena kepala suami dan istri, termasuk isinya, berbeda...mungkin juga sama-sama gak tahu apa yang harusnya dilakukan suami-istri...hihihi...

tapi mungkin yang saat ini menurutku penting dan jadi pegangan adalah bahwa harus belajar sadar, sesadar2nya bahwa pernikahan dan hidup berumahtangga bukanlah tujuan, tapi justru titik awal....

enaknya, belajarnya gak sendiri...learn it together and dont take it for granted...

jangan pernah lupa berkomunikasi, even lewat sms or phone call...

wah, masih jauuuh...rapotannya....masih baru mulai belajar nih...

bismillah...

Aku kehilangan teman


aku merasa teman baikku menjauh

semakin dekat jarak di antara kami

semakin jauh pula ia bergerak pergi

mencoba mencari jalan membuka silaturahim kembali

tetapi ketukan pintuku pun tak dijawabnya

Timbul tanya

berbuat salah terlalu besarkah diriku?

padanya ?

bagaimana aku meminta maaf padanya?

seakan bicara pada sebuah tembok

tepi jurang

dalam ruang hampa

tak berbalas

Cinta Indonesia


Baru aja liat tayangan televisi

Tentang seorang seleb yang kembali membuka resto japan...di jakarta

apakah itu sebuah tanda kecintaan terhadap negerinya ?

kalau semua orang begini, yang kaya akan tetap kaya, yang miskin akan tetap miskin tanpa ada pemerataan...

mengapa tidak membuka resto masakan khas indonesia daerah mana gitu...

di luar negeri pembukaannya lebih bagus lagi, dengan pekerja warga setempat...

sesekali orang indonesia yang jadi manager, jadi 'bos'...

gitu loh baru diberitakan...bukan yang beginian...

Saturday, July 11, 2009

omnivora


sumber daya yang paling berharga tapi kurang dihargai mungkin adalah tenaga kerja ya...
orang bisa gak sayang2 untuk mengeluarkan modal banyak beli sarana kerja tapi sangat tawar menawar dalam mengupah karyawannya...padahal menurutku sarana yang biasa2 aja akan bisa jadi luar biasa dengan kemampuan tenaga kerja yang kreatif...

mungkin sama seperti tenaga kerja yang dilabeli outsource, paruh waktu, lepasan, kontrak, dlsb....
yang kurang diimbangi dengan rasa penghargaan yang layak...
mungkin rasa penghargaan itu gak melulu dalam kurung dikasih keterangan uang, tapi juga berupa hal-hal lain, yang tentunya dibutuhkan oleh sang tenaga kerja, berbentuk diajak rekreasi bersamakah, berbentuk jaminan (atau tunjangan ya namanya?) kesehatankah....atau hal-hal lain yang berguna....

tapi again, ya gitulah...tampaknya suatu kerugian besar kalau harus mengeluarkan uang banyak untuk sang penggerak 'kerja' dibandingkan untuk hal-hal yang tidak bergerak....

samakah dengan memakan daging sodaramu sendiri ?

entah.....

Tuesday, June 30, 2009

Dewasanisasi anak

Kemarin nonton di televisi acara wisuda anak-anak play group yang dibuat dengan prosesi seperti acara wisuda sarjana, lengkap dengan toga dan pakaian kebaya ber-make-up atau jas di balik toganya...

Hampir setiap hari di liburan ini juga ada tayangan di televisi yang berisi permainan ‘tebakan’ lagu yang diisi oleh peserta anak dengan keharusan ‘menebak’ lagu-lagu yang kebanyakan lagu-lagu orang dewasa, yang juga bisa dinyanyikan secara faseeehhh....oleh anak-anak tersebut....

Hari anak nasional sekarang katanya bertema Anak yang cerdas, sehat dan ceria....

Patokan anak cerdas mungkin bisa dilihat dari bertaburannya nilai-nilai di atas 9 dalam skala nilai 0-10 dari yang paling rendah sampai paling tinggi. Dari bejibunnya berita soal prestasi akademis juara olimpiade untuk pelajaran-pelajaran yang top itu lagi-itu lagi... sebelum liburan pun saat pembacaan pengumuman pasti yang diumumkan berprestasi adalah prestasi akademik mencapai nilai sekian, sekian, sekian, paling tinggi ini dan itu dalam pelajaran pelajaran yang itu lagi-itu lagi...

Membaca, mendengar dan menonton hal-hal prestasi itu kok bikin makin sedih ya...ditengah orang-orang yang katanya tau dan paham ada yang disebut multiple intelligence, mengapa jadi supporter teori intelegensi tersebut hanya di ucapan ? Mengapa jarang diberitakan di koran soal prestasi seorang anak yang juara lomba mengarang internasional misalnya, atau lomba menyanyi internasional? Kalaupun lomba menyanyi ditayangkan tapi pasti di bagian/kolom kecil dari surat kabar yang besar itu.... lebih banyak tampil diberita-berita infotainment, bahkan di berita infotainment pun prestasi tersebut pasti disandingkan dengan kata: “juga berprestasi di sekolahnya dengan mendapat rangking 1,2,3....” atau “ juga merupakan lulusan terbaik....” yang ujung-ujungnya ya nilai rata-rata dari pelajaran yang itu lagi-itu lagi....jadi buat apa ada promosi atau sosialisasi soal multiple intelligence itu ???? toh yang namanya anak cerdas sudah terukur oleh satu jenis intelegensi !!!!

Oh ya, mumpung ngobrolin soal kecerdasan, seiring dengan niat salah satu kandidat capres-cawapres untuk memberdayakan sekolah kejuruan....aku berpendapat emang tiap orang diwakili oleh bakat-bakat berketrampilan yang lebih atau kemampuan berteori yang lebih, nah sekolah kejuruan mungkin diperlukan untuk yang lebih baik dalam segi skill praktik dibandingkan skill teori, tapi kok ya kurang dibarengi visi dan misi ke depan soal penyediaan lapangan kerjanya sih ? apa ada sekarang persyaratan yang diajukan oleh perusahaan bahwa ia mencari tenaga kerja yang bukan S1 minimal ? bandingkan berapa banyak ???? ANEEEEHHHH....

Tema yang kedua: anak indonesia yang sehat...sehat apa ? jasmani dan rohani ? apakah masih rutin kegiatan olahraga anak-anak ini ? bagaimana perbandingan kegiatan olahraga dan geraknya dengan kegiatan duduk rapi untuk menulis dan belajar membaca ? Bahkan anak-anak TK pun semakin sedikit waktu geraknya padahal jam masuk sekolah mereka makin panjang....apakah itu akan membuat anak-anak jadi sehat ????? bagaimana sih yang dikatakan sehat itu ????

Terakhir, anak-anak Indonesia yang ceria....ceria dalam gambaran seperti ceria orang dewasakah ???? Mengapa tidak membuat perpisahan anak-anak menjadi acara perpisahan yang ciri khas anak-anak ? mengapa konseptor acara tidak menempatkan diri dari sudut pandang dan pemikiran anak-anak ? apa iya, perlu pakai toga ? perlu dibacakan satu-per-satu namanya ? acara ini untuk orangtua anak atau untuk anaknya ???? kedewasaan anak-anak akan cepat terasa kok tanpa perlu diburu-buru...jadi ceriakan, sehatkan dan cerdaskan mereka sebagai anak-anak....

Kalau acaranya tebak-tebakan untuk anak, ya lagu anak-anak dong yang jadi materi....kekosongan materi lagu anak, ya buat dong, kan ada banyak stok lagu orang dewasa, mengapa tidak juga menambah stok lagu anak ? Kalau bisa menjiplak sinetron2 dewasa, kenapa tidak membuat sinetron2 yang anak-anak ? yang gak perlu dibumbui oleh cinta-cinta/naksir-naksir ?

Kalau wisudaannya anak-anak PG, ya mengapa tidak dengan penampilan bersama, gak perlu ada prosesi yang menyerupai sarjana...tidak cukupkah biaya masuknya saja yang menyerupai biaya masuk universitas ????

Kalau ada pembacaan prestasi ? mengapa tidak selang-seling antara prestasi akademis dan prestasi life skill ? mengapa mengumpulkan prestasi akademis di bagian akhir ditambah pula dengan kata-kata “ akhirnya sampailah pada pengumuman yang paling ditunggu..nilai tertinggi diraih oleh ?????”

UGGGGHHHHHH....

Gak cukupkah orang dewasa yang ada saat ini sehingga perlu menambahkannya dengan anak-anak yang dikostumi ‘pakaian orang dewasa’?????

Friday, May 08, 2009

Laugh out loud

Tadi baru saja nonton suatu acara televisi yang ada embel-embel show-nya.

Agak miris nontonnya karena yang coba di angkat adalah topik serius: KDRT.

Dibahas dalam format talkshow dengan menghadirkan semua aktor utama: ya si pelaku kekerasan, ya si pelaku yang diberlakukan kekerasan terhadapnya; lengkap dengan penonton yang boleh ikutan bertanya or berkomentar pada semua aktornya (kayak nonton adegan interaktif sebuah wayang) untuk membedakan aktor utama dan pembantu diberikan topeng.

hhh....mengapa sepanjang acara yang terjadi justru tertawa sana dan sini, komentar dan pertanyaan juga yang berbentuk tawa (atau aku yang salah melihat raut tawa di muka mereka?)

apa ya tujuan dibuat acara ini ?

apakah untuk memberikan edukasi ?

apakah untuk memberikan informasi ?

atau ya memang show ?

kalau yang terakhir, kenapa yang diangkat topik yang sama sekali bukan untuk show ? melibatkan semua aktor yang bukan aktor ?

Di ujung acara juga tidak ada (at least) pemberian info apapun mengenai boleh/tidaknya tindakan KDRT, dimana bisa mencari pertolongan, saat kapan suatu tindakan disebut KDRT, dll....

Mengapa suka begitu ? mengapa semua hal dianggap bisa dijadikan bahan show (komedi situasi) ?

Sama seperti show lain yang judulnya tukeran...entah, buatku inti show di televisi untuk acara tersebut harusnya lebih pintar, lebih berefek jangka panjang, biar yang nonton ikutan pintar....bukan sekedar memotret kelucuan orang-orang yang diberikan mimpi indah untuk nanti dibangunkan lagi....yang lebih miris acara tukeran itu menyertakan anak-anak, yang kadang belum bisa/siap membedakan mana mimpi mana yang nyata, mana main-main, mana yang serius....

Mengapa tidak membuat dan memotret apa pengaruhnya buat keluarga tersebut (misal: si keluarga kaya yang berperan miskin) selanjutnya. Si ayah yang bos kemudian membuat asuransi kesehatan untuk sang supir, dst....inspirasi tidak timbul dari komedi situasi yang dipaksakan...

Mengapa menginspirasi untuk jadi bodoh secara massal ?

Tuesday, March 10, 2009

menunjuk

aku lagi sebal
orang suka banget menunjuk orang lain
tapi suka lupa pula bahwa dia yang menunjuk juga melakukan hal yang sama dengan yang ditunjuknya
aku lagi sebal
orang suka banget berasumsi dan membuat sendiri skenario dikepalanya
tanpa mau memastikan apakah betul asumsi dan skenario tersebut dengan yang nyata ada
aku sebal banget
orang suka sekali meremehkan orang lain
dan berhitung-hitung untung dan rugi
sampai selalu ketakutan apa-apa
aku sebal sekali
orang suka hanya memandang dan berbicara dari diri sendiri dan lupa ada persepsi lain dari satu cerita
UUUUGGGGGHHHHHH!!!!!!!

Wednesday, March 04, 2009

tentang suamiku


aku menyukai dua matanya yang indah
berbinar cerah ketika tertawa
aku menyukai cara tuturnya yang santun
mengalir tenang penuh makna
aku menyukai desah nafasnya yang hangat
menimbulkan gairah yang membara
aku menyukai harumnya yang alami
menenangkan sekali berada di dekatnya
aku menyukai sosoknya yang sederhana
membuatku selalu bersyukur atas cintanya
mencintainya
membuatku mencintai diriku
membuatku mencintai penciptaku
membuatku mencintai cinta

Thursday, February 26, 2009

persepsi

ada orang yang selalu mempersepsikan semua pikiran, tindakan dan hasil perbuatannya adalah positif
ada yang sebaliknya
bagaimana cara menghadapi suatu peristiwa ya?
sejauh mana usaha kita?
bagaimana kita bisa menilai gagal dan berhasilnya suatu hal ya?
apakah melulu proses yang akan menentukan?
saat dimana sih kita dibilang putus asa ?
saat kapan juga dikatakan bahwa usaha kita gagal?
kalau semua itu dilakukan pada manusia sebagai 'produk'
dengan ilmu yang terbatas
lalu manusia selalu berkembang
bagaimana kita bisa tahu yang kita lakukan sudah tepat atau salah?
ukuran tepat dan salah itu mengacu pada kita atau pada produknya ?
apakah akhirnya intuisi yang akan menuntun?
apakah kita betul-betul bisa membantu orang lain ?
UGHHHH!

Sunday, February 22, 2009

a visit to the past

minggu ini entah kenapa temanya adalah melihat kembali ke masa lalu
dimulai dengan adanya kontak dengan teman-teman SMP lalu berbuah pertemuan
diselingi dengan lagi bongkar2 isi rumah sehingga menemukan lagi berbagai barang-barang antik
dari bongkar2 isi rumah, ternyata aku menemukan foto2 lama kakekku
kakekku ternyata orang yang cukup rapi dalam menyimpan barang-barangnya
foto2 itu tersimpan rapi dalam album disertai dengan keterangan tulisan kenangan tentang foto tersebut atau jika belum disimpan rapi dalam album, dimasukkan ke amplop2 kecil dengan judul tempat perjalanannya...dan yang menarik buatku adalah little note di belakang beberapa foto...
hihihi...
aku jadi membayangkan, kalau aku sudah tua dan pikun, dengan kemajuan teknologi jaman sekarang, mungkin masih bisa baca dengan kacamata lalu membaca kembali kejadian waktu foto2 itu dibuat mungkin give warm feeling....hehehe
dengan adanya pencatatan dan administrasi yang baik, akan lebih mudah untuk kembali mencari apa2 yang diperlukan...
jadi ingat acara bongkar2 isi rumahnya sendiri...hehehe
kadang suka bingung mengapa setiap saat harus bongkar isi rumah lalu lupa meletakkan berbagai hal dimana atau yang tahu menaruh dimana barang hanya satu anggota rumah saja...
mengapa setiap kali bongkar isi rumah, pada waktu ditata kembali tidak menyertakan kemudahan2 untuk mencarinya...entah bentuknya inventarisasi sederhana (ada tulisan di rak mengenai isi rak tersebut, misalnya) atau bentuk lainlah yang mungkin lebih sederhana lagi...
mungkin agak ribet di awal, tapi kebelakangnya kalau ada acara atau mendadak harus mengadakan acara yang membutuhkan perabotan, bukannya jadi lebih saving time dan energy ya karena lebih jelas ada dimana barangnya...atau lebih baik memang hanya mengandalkan memori aja ?
hihihi....dalam berbagai hal kecil kita anggap memori kita sangat kuat
jadinya terbiasa begitu dan mengandalkan memori pula dalam hal-hal yang lebih kompleks
jadinya seperti jalan ditempat
a visit to the past always teach me something new
how to be better
how to be usefull for others
how to be human
....

Sunday, February 08, 2009

arisan

kalau dulu (sekarang sering banget memulai kata-kata dengan 2 kata ini...i'm getting old) gak suka banget sama yang namanya arisan...
image arisan juga gak ada bagusnya di kepalaku
apalagi figur mama yang pekerja gak pernah membuatku terbiasa melihat beliau sibuk dengan arisan ibu-ibu PKK...
semua serba praktis dan tidak peduli orang lain...hehehe
tapi kemarin aku baru menghadiri arisan dan jadi teringat kata-kata temanku yang juga anggota arisan lain...
iya ya, ada manfaatnya juga arisan itu...
temanku itu ikutan arisan guru bahasa inggris
jadi arisan tersebut mengkhususkan pada pembelian buku-buku teks pengajaran bahasa inggris
lumayan juga, bisa menghemat pengeluaran dan bermanfaat untuk dia...
kalau di keluarga, menurutku manfaatnya juga banyak, mengakrabkan keluarga, membantu keluarga2 muda
hmm...
mungkin segala sesuatu yang netral terlalu banyak dipengaruhi asumsi dan opini negatif jadinya gak netral lagi
terlalu buram kacamata yang kupakai
jadi harus dilap dan dibersihkan lagi
supaya bisa bermanfaat untuk melihat lagi...
bukan meraba-raba...
hehehe

Wednesday, January 21, 2009

adaptasi

lagi belajar untuk menyesuaikan diri
lagi belajar untuk beradaptasi
lagi belajar deh...
bismillah

Wednesday, December 03, 2008

h minus day


menginjakkan kaki juga di bulan desember

makin keliatan hal-hal kecil yang perlu disiapkan

kadang bikin mumet

kadang bikin tersenyum

tapi yang jelas

aku menikmatinya

....

bismillahirohmanirohim

Tuesday, November 18, 2008

blushing


..

just deeply in love

...

terimakasih

Monday, November 17, 2008

rendah diri atau hati ?

mengapa ya pengen nulis tentang rendah ?
mungkin karena aku yang memeriksa berkas laporan hasil tes siswa SMA menemukan bahwa saat ini gak beda dari tahun-tahun sebelumnya, bahwa pilihan jurusan siswa tetap mengerucut di bidang profesi yang itu-itu juga...
atau mungkin karena aku baru nonton iklan suatu departemen di televisi yang menceritakan siswa yang kegerahan...
atau mungkin aku menonton suatu infotainment yang mengkaitkan bobot istri yang melahirkan anak buah cintanya dengan suami dengan indikasi selingkuhnya suami...

bagiku, walaupun itu menyangkut kasus yang berbeda
tapi kok ya semua itu berkaitan dengan manusia
yang terlalu merendah...

mengapa siswa sma itu takut untuk masuk bidang baru yang tidak seperti kebanyakan orang ?
kemana pelajaran bahwa indonesia itu negara agraris dan bukan industri sehingga harusnya kita membangun bidang tersebut ?
mengapa reason seseorang untuk masuk ke bidang studi lanjutan gak pernah jauh-jauh dari kepentingan diri sendiri ?
Kalau bilang bahwa hal itu terlalu berlebihan dan berat untuk dipikirkan oleh anak SMA, lalu kapan lagi ? nunggu dia lulus kuliah ? gak telatkah ?
semua pokoknya sibuk ketakutan...sehingga jadi lupa ketrampilan akal sehat yang dianugrahinya...

Tentang iklan sekolah tanpa AC...hmmm....makin kecil nilai manusia yang melulu dikuasai oleh tehnologi...makin jalan sendiri-sendiri tiap bidang kehidupan...jika satu departemen mempromosikan untuk hemat energi...yang lain malah mempromosikan yang sebaliknya...begitu tidak teraturkan kehidupan ini ?

Tentang pria yang dikuatirkan selingkuh setelah istrinya bertambah bobot tubuhnya...aduuuh...segitu rendahnyakah mahluk yang bernama pria? tidakkah ada hal-hal lain yang berperan dalam sebuah pernikahan ? tidak adakah sebuah kontrol qalbu di dalam diri pria ? sudah hilangkah cinta dan digantikan dengan lust ?

Kalau terus begini, apakah tidak namanya self-fulfilling prop ?
ya sudah, kalau aku dianggap begitu, yah, aku akan berlaku seperti itu...
saking banyaknya orang yang bilang begitu, maka aku merasa yang begitu itulah yang benarnya...

mana yang benar ?
benar diri
benar orang
benar kamu
benar aku
benar massal
benar-benar deh...

Tuesday, October 21, 2008

menunggu


kemarin karena kecerobohan, aku menunggu di ruang tunggu sebuah dokter untuk operasi kecil
selama ini aku sangat jarang ke dokter, padahal kerjaanku berhubungan dengan dokter
dan kemarin aku menunggu cukup lama di ruang dokter tersebut karena sang dokter agak terlambat membuka prakteknya dikarenakan mengurus istrinya yang sedang di rawat di sebuah rumah sakit. dokter ini dokter yang juga dah jadi teman keluarga...
(kenapa ya ada istilah teman keluarga, kenapa gak membuatnya menjadi keluarga aja ? kenapa ada langganan keluarga tapi gak menjadikannya keluarga aja ? hehehe)
ada beberapa hal menarik buatku:
1. karena dokter itu (aku memanggilnya dengan sebutan oom) tidak pernah mempekerjakan admin atau cs untuk membuat antrian teratur, maka akhirnya pasiennya sendiri yang mengatur dirinya mengantri... hihihi....keren menurutku karena walaupun ada yang ngomel tapi disitu justru nilai2 musyawarah mufakat (taelaaa) betul terasa...ada yang bentar lagi giliran masuk, juga dipanggilkan oleh yang lain dan diberikan tempat duduk dekat pintu praktek supaya gak susah masuknya, dst...
2. Di ruang tunggu itu juga gak pernah disediakan majalah atau koran...bagus menurutku karena dengan begitu akhirnya pasien2 itu jadi menjalin silaturahim, berkenalan satu dengan yang lain dan dari obrolan tersebut muncul pengetahuan2 berguna untuk satu sama lainnya...misalnya dari pembicaraan kemarin yang aku dengar, salah satu penyembuh luka atau penghilang tumor jinak ya (ngupingnya kurang okeh) yang cukup cepat adalah dengan meminum kunyit putih...yang pengolahannya diblender atau diparut....bisa dicampur pula dengan sedikit maju...atau obrolan2 lain yang berguna dibandingkan masing-masing tenggelam menjadi individu2 yang gak peduli sekelilingnya dan sibuk main hape atau baca majalah-buku-koran...
3. nunggu di ruang tunggu dokter kurang nyaman tapi blessing in disguise juga karena topik obrolannya agak serem ya... menyangkut kanker ini, operasi itu, sakit ini, luka itu...dst, tapi dengan begitu jadi pengen berpola hidup sehat...betapa sehat yang sering take it for granted jadi berasa begitu mahal kalo sakit...padahal dengan pola hidup sehat, kita gak perlu jadi konsumtif...
4. Betapa sulitnya sang dokter, dia tetap harus memikirkan janji-janji yang dibuatnya dengan sang pasien yang juga membutuhkannya...walaupun kemarin tampak jelas oom yang suka bercanda itu jadi terlihat sering melamun memikirkan kondisi istrinya yang sedang terbaring di rumah sakit...
5. Oom-ku ini punya anak tunggal, jadinya dia ikut mengasuh anak asisten rumah tangganya (PRT), aku inget sekali, anak ini dulu waktu SD selalu diantar dengan mobil mercy sang dokter ke sekolahnya dst, dengan perlakuan yang sama...kemarin waktu ditanya kabar anak tersebut, oomku bilang dengan bangga kalau sekarang anak itu sudah kuliah di UI semester tiga...kalimat yang diutarakannya: "Masa orangtuanya pembantu, anaknya kita biarkan menjadi pembantu juga? kalau kita punya rejeki, mengapa tidak membantu ?"

Selamat membantu satu sama lain
selamat bergotong royong
selamat bergaul dengan manusia
selamat menjadi manusia

Saturday, October 04, 2008

Mana manusia, mana binatang ?



Aku lagi bingung
(like usual)
Karena sempat nonton acara MTV the ex-effect
Lalu jadi inget temptation island
Lalu nonton the moment of truth
Lalu denger banyak yang menikah ‘muda’
Lalu denger banyak yang disarankan untuk cepat menikah
Lalu mendengar alasan orang berpoligami
Asal muasal alasannya satu : SEX
Di acara yang ku tonton godaan dan pertanyaan tersulit adalah berhubungan dengan sex
Alasan-alasan untuk menikah juga gak jauh-jauh dari sex...
(daripada nanti kenapa-napa; daripada nanti begini-begitu; dst)
Seakan manusia tidak dibuilt untuk mengendalikan nafsunya
Tapi manusia dikendalikan oleh nafsu...
Eh....
Ternyata
Gak hanya seks
Manusia gak jauh-jauh dari
Nafsu lain-lainnya juga
(marah, kaya, kuasa, dst)
Dan gak ada yang mau mengendalikan diri...
Kata bang haji:
TER-LA-LU....

Thursday, September 25, 2008

KONSEP AKU



Salah satu yang ku syukuri (walaupun dulu sempat misuh-misuh) setelah masuk fakultas psikologi di UI adalah adanya materi yang punya judul konsep AKU. AKU itu singkatan dari ambisi, kenyataan dan usaha. Konsep tersebut dicetus oleh mas budi, menurutku, what a brilliant concept… intinya sih sebetulnya adalah bagaimana manusia bisa mengembangkan diri. Yah, emang inti dasarnya manusia gak jauh dari adanya ambisi, kenyataan dan usaha yang dilakukan sih… mulai dari ambisi pengen tidur siang sampai ambisi yang jadi cita-cita or obsesi bisa dijelaskan cukup sederhana dengan konsep ini. Dan memang jika lo punya/merasa punya masalah, biasanya gak jauh dari adanya ketidakseimbangan antara ambisi, kenyataan dan usaha…bisa jadi gambaran diri orang tersebut aKU, Aku, AKu, dst..entah ambisinya yang kegedean tanpa mempertimbangkan factor usaha dan kenyataan yang ada padanya mendukung or not…

Teknis pengajaran konsep AKU juga gak ‘pada umumnya’… atau kalau diinget-inget hampir semua materi yang diajarkan mas budi pasti teknisnya kayak ‘gambling’ gak biasa…termasuk materi statistik… he just trying to portrait reality I guess…jadi ujian dengan dia itu merupakan pilihan. Klo gak salah dia memberikan 2 kesempatan ujian (udah lama, jadi agak-agak lupa) di awal ujian itu dia akan mendata siapa yang mau mendaftar untuk ikut ujian kedua, dengan catatan, berapapun nilai ujian pertama lo, kalau ujian kedua lo C, maka yang akan masuk transkrip adalah C. maka kalau yakin udah belajar dan siap di ujian pertama, yah mendingan gak daftar ikut ujian kedua…(somewhat like that lah…lupa euy…intinya dia akan selalu challenge mahasiswanya untuk berani ambil resiko dan berani untuk yakin terhadap kemampuan dirnya…after all, life emang mirip ajang judi, kasarnya…hihihi)

Buatku, suatu materi akan menjadi bermakna kalau bisa kita terapkan, bukan kalau kita bisa dapat nilai yang bagus…(life is more than just a mark on piece of paper) dan aku mencoba menerapkan itu ke kehidupanku…jrengggg…..hihihi, kayak melawan gravitasi jadinya… mencoba untuk membuatnya lebih sederhana ke anak-anak SMA yang mau masuk kuliah tampaknya juga mental euy….(mungkin teknis penyampaianku yang masih belum nemu cara yang tepat) karena mereka jadinya hanya menangkap games-games yang kuberi instead of message that lies behind the games I present…hiks…

Mencoba untuk menerapkannya kepada gurunya, juga mentok ke persoalan: yah, yang kami tahu dari dulu ya begini…toh, pihak sekolah tetep menuntut nilai baik, lulus 100 %, gimana bisa menerapkan system berpikir begitu kepada anak?

Kalau diterapkan di masa kuliah, menurutku agak sedikit telat…karena mereka udah masuk ke jalur-jalur pilihan dan mereka mmutuskan masuk ke jalur-jalur pilihan itu tanpa bisa bertanggung jawab akan pilihan yang mereka buat…which for me, kayaknya sih tanggung jawab itu barang yang langka ya, nowadays…ga atas pilihan jurusan kuliah aja, termasuk pilihan mencari teman, pilihan untuk menghadapi godaan, pilihan-pilihan-pilihan yang akan makin banyak mereka lakukan….

Kita gak pernah diajarkan untuk memilih dengan sadar….

Padahal manusia diserahi tanggung jawab besar dengan adanya akal sehat

hiks

Hikikomori



“bu, tolonglah saya…saya sudah ke mana-mana, sudah banyak uang yang saya habiskan, saya tidak tahu lagi harus kemana…tolong…mengapa anak saya tidak mau keluar rumah?”

“tolong tante X ya, tante sudah berulang kali ke (tenaga professional) tetapi belum ada hasilnya…si A belum mau juga keluar dari kamarnya…”

Entah mengapa, dialog-dialog di atas bermunculan di kepalaku sewaktu sedang membaca artikel tentang hikikomori di sebuah majalah. Majalah itu aku baca saat berusaha menjadi cantik di sebuah salon…hehehe….

Hikikomori, menurut artikel tersebut, adalah suatu fenomena yang dideteksi menjangkiti remaja jepun, yang sebagian besar penderitanya remaja pria (around 13-15 tahun), dimana ia betul-betul ’shut down’ dalam kehidupan sosialnya. Dia memilih untuk berada di dalam kamarnya dan doing god’s know what there...(kalau ada internet, kabarnya, mereka juga masih ’bersosialisasi’ sih, entah dengan sesamanya (katanya ada komunitasnya) atau entah dengan mahluk jenis apa). Mereka kadang juga gak mau berhubungan dengan orang rumah atau keluarganya. Kalau belum terlalu parah, katanya mereka masih sesekali keluar rumah tapi pada waktu-waktu tertentu seperti malam-malam untuk ke supermarket mengambil barang pesanan mereka atau sejenis itu...pokoknya intinya, mereka menutup diri dari lingkungannya. Bagian terbesar hikimori adalah anak-anak dari keluarga menengah ke atas. Di duga salah satu penyebabnya adalah peran orangtua (di artikel itu ditulis: ibu) yang selalu melindungi anaknya, termasuk kebiasaan tinggal bersama anak sampai anak tersebut berusia dewasa, sehingga ketika anak menemui kesulitan atau kegagalan terus, anak memilih untuk ’lari’ dari dunia dan timbullah fenomena hikikomori ini.

Eniweiiii, artikel itu sendiri ditulis pada majalah lama (di salon, jarang banget majalah baru). Dialog-dialog di awal tulisan ini juga terjadi 2 tahun yang lalu (kurang lebih). Dialog-dialog itu diucapkan oleh para ibu yang kuatir dan sayang sekali dengan anak-anak mereka. Anak-anak laki-laki yang menjadi harapan keluarga, yang bersekolah di sekolah terbaik (dalam or luar negeri)...tapi saat itu, saat dialog itu akhirnya terjadi, anak-anak laki-laki mereka tidak lagi bersekolah, tidak lagi beraktivitas. Kegiatan mereka murni di rumah, tidak lagi mau bertemu dengan orang lain. Kalau diulik-ulik, cerita awal mula anak-anak ini menarik diri adalah karena mengalami kegagalan berturut, such as, gak lulus ujian, diputusin pacar, dan hal-hal yang umum lainnya namun berdampak luar biasa buat mereka (at least dalam pikiran mereka) sehingga mereka begitu...anak-anak laki-laki itu bukan lagi muda, rata-rata 20-25 tahun, guanteng, kuayaaa (at least, kecipratan dari orangtuanya), dan sejuta syarat yang terpenuhi untuk di-idolakan.

Kalau dilihat dari faktor keluarga, kemiripannya adalah tidak kompaknya ayah dan ibu, ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan ibu yang terlalu terus menerus mengurus anak walaupun anaknya sudah dewasa (mungkin lupa tugas menjadi orangtua adalah apa...emang apa ya tugas jadi orangtua...next writing maybe...hihihi).
Hmmm....lalu kebayang beberapa kasus anak lain...dengan masalah beda tapi menurutku ada di satu jalur...menuju ke arah isolasi diri, misalnya: betapa banyak anak-anak yang mogok sekolah dan difasilitasi orangtuanya untuk berada di rumah; betapa banyak anak yang tidak mengenal tetangganya; betapa banyak anak yang tidak tahu apa-apa...ironis karena mereka dijejali begitu banyak pengetahuan di sekolahnya (sekolah sampai sore, isinya apa kalau gak dibekali pengetahuan bukan ? hehehe)

Tiba-tiba setelah membaca artikel itu, mengingat kembali kasus-kasus itu....jadi sediiiihhhh
(hiks..hiks)

Thursday, September 04, 2008

thank you


Terimakasih karena mau berjalan berdampingan denganku
terimakasih karena mau menjadi orang yang lebih baik bersama-sama
terimakasih karena mensyukuri kecukupan yang diberikan tuhan pada kita masing-masing
terimakasih karena mau memberikan realitas
terimakasih karena sama-sama mau berbahagia
*mmmuuuuaaaaccchhhhhh*