Sunday, August 05, 2012

negosiasi sosialisasi

katanya untuk pasangan suami istri, saat istri hendak bepergian, ijin suami penting sebelum ia boleh keluar
apakah hal ini berlaku sama untuk suaminya ?
katanya untuk pasangan suami istri, istri lebih baik bekerja tidak sampai malam untuk kualitas hubungan suami-istri
apakah hal ini berlaku sama ketika suami memutuskan bekerja hingga malam hari?
kira-kira kalau suami ini seorang pekerja antar kota, ketika ia berada di kota yang sama dengan istrinya apakah sang suami akan menghabiskan malam pertama pertemuannya dengan sang istri lewat rapat?
jika ya, apakah sang istri harus memahami dan menerimanya?
jika kondisinya terbalik, sang istri yang pekerja antar kota...apakah suami akan memahami dan menerima kondisi istrinya harus rapat?
pada akhirnya jika ada konflik kepentingan antara suami dan istri, dimana harus ada negosiasi, pihak yang diminta untuk 'mengikuti' ada di suami atau istri?
apakah semua hal memang jadi double standard? tidak mungkin bisa objektif?
bentuk komunikasi yang mungkin banyak dilakukan suami istri jangan-jangan bukan negosiasi tapi sosialisasi...

Thursday, August 02, 2012

comparing the uncomparable

bisakah mengaji dibandingkan dengan slank?
atau
'menonton ustad' dalam pengajian yang bisa dibandingkan dengan menonton konser slank?

&%)W#%%T

mungkin teori yang mengatakan wanita itu lebih menggunakan emosi dibandingkan pria perlu diteliti lebih lanjut...
karena yang ku alami, ini juga bukan hal yang bisa dibandingkan...
sering banget para pria jarang yang berpikir panjang, sehingga tindakannya selalu diambil berdasarkan satu data kecil dan tidak melihat gambaran yang lebih besar dari suatu hal...
memang wanita cenderung lebih ekspresif, tapi sejauh pengalamanku, they do the logical thinking ...

menggunakan hal-hal agamis dan membandingkannya dengan duniawi juga tindakan sekuler bukan?
bagaimana mengajarkan bahwa tuhan itu dekat dan selalu melihat, tapi ada hal-hal yang bisa dengan tuhan dan ada hal-hal yang ga usah bawa tuhan?bagaimana sesuatu yang jadi bagian dari suatu hal besar dibandingkan?

bekukah hati ini tuhan?
sunyiku mudah-mudahan bukan karena kau bekukan hatiku
bismillah

Wednesday, October 12, 2011

being used

aku ga tau apakah curhat kali ini lebay or not.
tapi pengen curhat soal kejadian kemarin padaku.
aku dminta menjadi seorang fasilitator karena keilmuwanku.
acara tersebut adlh acara ke tiga yg sdh dijalankan.
penggagas acara terrsebut memintaku unt jadi fasilitator,
dgn briefing singkat 3 acr sblmnya pada pg hr dan permintaan
unt jadi fasilitator dtg sehari sebelumnya.
saya sadar saya bukan dukun, saya perlu baca situasi, belajar dr situasi dan
membagi pengetahuan soal info tersebut.
waktu acara tsb 1 jam, dan lengkaplah tergagap2nya saya selama 1 jam itu.
feedback yg saya terima sangat buruk! seakan saya yg belajar itu yang paling tdk pny
pengetahuan soal itu dibanding org2 yg jadi pemateri lain.
yang timbul saat itu adlh apa yg terjadi dgn konsep awal berbagi ilmu di kegiatan tsb?
mengapa seakan2 ilmu terberi secuplik2 tapi lgs dianggap lengkap?
dan merasa plg tahu, plg paham? tidakkah cara tiap org berbeda?
kebetulan ada saya dan saya dimanfaatkan untuk menyampaikan pesanmu?
lalu saya dikritik krn membingungkan? tidakkah mendengar feedback peserta bhw acara ini juga membingungkan?
maaf kalo lain kali saya harus berkata tidak, cukup, untuk permintaanmu!

Friday, September 23, 2011

masalah kita sama

beberapa waktu lalu sempat dapat kesempatan mengikuti workshop terapi soal managemen emosi...
nah, yang menarik buatku adalah insight yang kudapat setelah sesi latihan. Ceritanya aku jadi pasien...terus aku diminta untuk menuliskan/menyebutkan 6 orang yang paling bermakna dalam hidupku dan orang2 tersebut membuatku menjadi seperti apa sekarang ini.
nah, latihan itu membawaku mengingat2 masa kecil, dan ternyata aku adalah produk multiparenting...hehehe...maklum besar dari keluarga pekerja, maka aku mengalami banyak tipe pengasuh, mulai dari ii, kungkung, mbak, dst, walaupun orangtua tetap berperan besar...
Nah, dari sesi terapi itu, aku jadi sadar bahwa pengasuhan multi itu membawaku menjadi seperti sekarang ini: penuh dengan topeng untuk menyenangkan orang lain. Di hadapan A, aku akan bersikap A, di B akan bersikap B, dst sehingga sulit menunjukkan siapa saya. Kayaknya lagi sebagai anak pertama aku cukup 'dituntut' untuk memberi contoh terbaik...
hmmm....si terapis memberikan pertanyaan padaku, "if you always show the person you think i want you to be, then how can i help you? If you always want to please me, how can I know what you want, what you need?"
hehehe....kayaknya aku merasa agak aman untuk show me who i am ya di kuliah profesi kemarin itu!
Nah, salah satu mahasiswaku hadir untuk konsul masalah yang serupa dengan yang aku alami...doengg....bagaimana menjawabnya yaaaa

Wednesday, February 09, 2011

sebatas berita

beberapa saat lalu berkesempatan menonton acara televisi yang mengambil topik 'seks bebas di kalangan remaja'. bentuk acaranya berupa talkshow dengan sisipan 'tips'/ilmu dari pakar...waktu itu yang dihadirkan adalah pakar psikologi yang mendalami masalah seks.
Dari acara tersebut sang pakar menyayangkan bahwa kasus seks ini belum dianggap sebagai sesuatu yang serius sehingga menjadi sekedar berita saja, padahal menurutnya hal ini bisa mengancam bangsa, menimbulkan kehancuran jika dibiarkan saja.
Banyak hal yang bisa mengancam bangsa, menimbulkan kehancurannya dan saat ini, dibangsa ini sedang dipupuk hal-hal tersebut.
Sumber dasar yang menurutku tidak dilihat adalah penggunaan akal sehat...tidak ada lagi yang mempromosikan hal ini. Semua sibuk bergulat dengan masalah-masalah teknisnya. Seks, kekerasan, korupsi, semua masalah teknis....tapi semua juga berlomba-lomba membuat ajang mencegah hal-hal tersebut, lewat kantin kejujuran, UU pornografi, dst...tapi kalau yang kita sumbat adalah hal-hal tersebut yang ibarat ranting atau dahan sebuah pohon, maka ia akan menumbuhkan ranting baru, dahan baru dan masalah baru lagi, sedangkan akarnya tidak diapa-apakah...ranting yang busuk akan tetap ada kecuali diberi pupuk pada akarnya mungkin...
Nah, kalau selama ini penggunaan akal justru 'dimatikan' bagaimana mungkin semua masalah 'masyarakat' itu akan hilang ?
Apa ada promosi akal untuk penggunaan di sekolah ? yang ada hanya untuk menggunakan fungsi memori dan cara cepat, instant untuk membangun karakter...errr...emang bisa ?
Praktek keagamaan ? err...ritual yang di'elu-elu'kan itu sama sekali tidak merangsang akal bekerja, why, how, what, semua dilewatkan...dianggap sudah default jadi gak perlu tanya-tanya, gak guna...cinta tidak akan tumbuh dari rasa takut, man! akhirnya ritual tidak akan menumbuhkan apa-apa kecuali robotic behavior
building character program....how can it be kalau satu sama lain tidak berkomitmen enough untuk saling mendukung dan sabar enough untuk mengetahui bahwa proses itu terjadi tidak dengan sulap?
Dengan berbagai acara televisi yang ada sekarang, bagaimana mungkin akal sehat bisa terlatih ?
Acara debat di televisi, bukan untuk mencari solusi, hanya untuk show time...
Acara diskusi di televisi, tidak menghadirkan kesimpulan apa-apa, bahkan terkadang pembawa acaranya tidak menguasai materi maupun tokoh yang diajak diskusi...
acara lain di televisi...hmmm....
sebatas berita...tak lebih

Tuesday, February 08, 2011

soal pengasuhan anak

beberapa hari yang lalu di televisi rame lagi soal 'ricuh' dua artis yang sudah divorce.
sebut saja si A dan B, yang lagi meributkan 'pengasuhan' anak-anak mereka yang diistilahkan referendum.
si B mengungkapkan 'kesal'nya karena merasa anak-anak 'diharuskan' untuk memilih A, padahal sebagai anak tentu ingin bersama A dan B, tidak harus memilih.
Ricuh ini jadi lebay karena narasi televisi yang ikut buat cerita sendiri...yang,astaganya, karena 'ingin' berimbang-atau biar rame- lalu mewawancarai A dan B, tapi buat kesimpulan sendiri dengan narasinya itu.
Lucunya, semua acara yang memuat peristiwa ini memiliki kesamaan persepsi cara melihat kasus tersebut.
BUatku justru cara yang digunakan A adalah salah satu cara, yang menurut teori, tepat dalam mengasuh anak. ia mengajarkan konsistensi, satu pedoman yang perlu diikuti anak. Bayangkan jika seorang anak dari keluarga bercerai boleh dengan bebas ke ayah dan ibunya. Darimana ia akan belajar nilai kehidupan yang ingin ditanamkan oleh orangtua. karena:
1. dengan A dan B yang bercerai sudah tentu tidak sepaham dalam berbagai hal, mungkin termasuk pengasuhan anak, bagaimana mungkin si anak akan bisa tumbuh menjadi pribadi yang 'tunggal' jika setiap kali ia berada di rumah ayah ia belajar cara A tapi dinegasikan di rumah ibu? untuk anak remaja pula
2. dengan perbedaan pandang itu, bagaimana mungkin anak bisa belajar konsekuensi perilaku jika dengan mudah setiap kali ia konflik kepentingan dengan A, maka ia akan ke B untuk dapat apa yang diinginkan anak dan sebaliknya ? Bagaimana ia belajar apa yang penting ?
Mendengar hasil wawancaranya, aku melihat tidak cermatnya sang wartawan mengambil inti berita, atau memang justru cermat sekali karena yang diperhatikan adalah sisi 'ribut/kontroversi'nya ? toh si tokoh sudah bilang kalau ia ingin mendidik anaknya tidak plin-plan, maka cara yang diambil pun yang ia sudah katakan...betul, kalau anak sudah memilih, maka ia bertanggungjawab untuk menjalankan konsekuensi pilihan tersebut....apapun pilihannya...
tapi mungkin caranya kurang komunikatif ya...
entah, tapi aku merasa gak nyaman dengan pembelokan berita...
ini baru kasus rumahtangga...
kasus lain yang lebih besar kalau dibelok-belokkan gimana jadinya...
sedih

Sunday, August 29, 2010

makna sukses

tergelitik membaca suatu posting "alhamdulillah, acara baksos kita sukses!"
sukses dalam hal baksos mungkin paling sering terasosiasikan dengan lancarnya acara baksos itu, dalam arti tidak ada yang berebut dan semua pulang dengan selamat walaupun ada yang tidak kebagian, misalnya.
berbicara mengenai baksos itu sendiri, standar kesuksesan baksos apa ya ? buatku kok ya gak bisa dibilang kalau acara baksos itu sukses jika:
- ternyata dari tahun ke tahun yang datang masih orang yang itu lagi-itu lagi, berarti standar kehidupan orang tersebut masih miskin dong ? dan jika orang yang itu lagi-itu lagi itu gak cuma 1 jumlahnya, bagaimana kita bisa bilang kalau indonesia itu sudah beranjak naik peringkat dari negara miskin ?
- ternyata lagi dari tahun ke tahun, lebih banyak orang 'diminta' bangga menjadi miskin dengan menunjukkan dirinya miskin, dikumpulkan di 'lapangan orang miskin' untuk diberikan dari si mampu...ah, kalau bagiin kupon sembako itu sampai bisa menjelajah ke pelosok daerah dengan maksud agar sembakonya tepat sasaran, mengapa tidak langsung memberikannya di tempat tinggal sang sasaran ? mungkin bisa lebih akrab menjalin silaturahmi dan siapa tahu bisa menjadi inspirasinya untuk setidaknya tahun depan tidak lagi menjadi sasaran baksos?

ah, satu hal lagi yang seringkali dihilangkan tapi menurutku esensial adalah evaluasi kegiatan...jangan2 baksos udah tidak tepat lagi dilakukan, melainkan bentuk 'bantuan lain' sehingga semua orang bisa ikut merasakan menjadi si pemberi, bukan penadah belaka....

mungkin...

Tuesday, August 24, 2010

tes

ah, sudah lama gak menulis...
sudah lama gak mengeluarkan pikiran dalam bahasa tulis
sudah lama tersibukkan oleh hal-hal lain
mungkin sekarang saatnya dimulai lagi
bismillah

Monday, December 14, 2009

tergerus zaman

akhir-akhir ini banyak sekali tawaran berbasis tehnologi terbaru yang seliweran di sekitarku
semua menawarkan kemudahan (pikiran yang positif), semua menawarkan simplifikasi (pikiran negatif)
semua bilang dasar tehnologi/cara mereka berbasis ilmiah, artinya sudah melewati penelitian sebelumnya...
harusnya:
- ini membuat orang-0rang yang ada di fakultas terpacu untuk membuat penelitian yang hasilnya bisa serupa bahkan lebih, agar menghasilkan alat-alat ukur/deteksi/or whatever yang makin memudahkan orang banyak memanfaatkannya
- ini membuat orang-orang praktisi menjalin kerjasama produktif prestatif bersama pihak fakultas bukan untuk memperhitungkan untung-rugi yang dominan, melainkan manfaat bagi orang banyak...
bukan:
- saling tuding dan kompetisi memburukkan produk satu dan lainnya
- saling bersaing di harga yang makin mahal
- saling menyalahkan pihak satu dan lainnya
Aku sebelumnya ada di pihak yang resist terhadap perubahan, tapi kemudian aku berpikir bahwa tidak akan maju dan akan ditinggalkan jika perubahan yang ada ditolak tanpa mau mempelajari lebih lanjut
aku kemudian menjadi pihak yang paling semangat terhadap tawaran2 baru tersebut, membuatku kurang hati-hati dan waspada terhadap logika berpikir 'barang-barang baru' tersebut....
sekarang?
aku mau belajar terhadap hal-hal baru yang ditawarkan, diendapkan, dipikirkan, didiskusikan dengan orang-orang yang ahli lalu baru memutuskan, bisa/cocok digunakan dimanakah tehnologi/cara baru tersebut....
ah, ayo, jangan terlalu lama terpendam di lumpur kebutaan masa...

Thursday, November 26, 2009

sertifikasi

beberapa waktu lalu di tempatku sedang ada ribut2 soal sertifikasi
hm, jadi pengen komentar...
apapun profesinya, sertifikasi dimaksudkan untuk menyamakan kompetensi yang dibutuhkan agar bisa meningkatkan mutu diri pribadi dan lingkungannya (dalam dunia pendidikan mungkin untuk anak didiknya ya)
hmmm...
bayanganku soal sertifikasi ini adalah kesamaan mutu dan berbagi rata ilmu antara orang2 yang dianggap sudah waktunya mendapat sertifikasi dengan yang belum, sehingga setiap orang yang dididik oleh mereka jadi sama/setara kemampuannya..
maka, sertifikasi adalah serangkaian kegiatan simposium, pelatihan, seminar (u name it) yang bisa membuat kita lbh baik dan lebih siap pakai di tempat kerja kita....
tapi kok ya sedihnya, di dunia pendidikan, hal ini tak lebih jadi ajang mencari uang?
suatu opini di kompas beberapa waktu lalu menangkap poin penting (pada awal artikel tersebut at least) bahwa dengan sertifikasi sekarang, memang kesejahteraan guru meningkat tetapi tidak ditemukan korelasi positif signifikan dengan mutu anak didiknya, lalu apa dung evaluasi dan follow-up yang harusnya dilakukan ? kok malah makin jelas urusan sertifikasi samadengan uang? hikssss....

Saturday, September 12, 2009

Andaikata Anda disuguhi minuman tdk dlm gelas atau cangkir, tapi dlm pispot. Meski minuman yg disuguhkan itu minuman kesukaan Anda dan pispot itu pispot baru yang steril; saya jamin Anda pasti akan menolak bahkan mungkin marah-marah. Mengapa? Krn Anda sdh sering melihat pispot & fungsinya. Sdh mengenalnya. Pengenalan Anda trhdp pispot telah membentuk konsep tertentu dlm pikiran Anda ttg benda yg namanya pispot itu.


Baca tulisan itu di statusnya Gus Mus...
dengan keterbatasan otakku, jadi berpikir, maksudnya apa ya ? pesan yang ingin disampaikan apa ya...
Asumsiku:
1. karena pispot itu fungsinya bukan untuk minum, maka ketika difungsikan sebagai wadah minuman, maka akan ditolak. Berarti tempatkanlah segala sesuatu sesuai fungsinya
2. jangan mikirin sosok luarnya, yang penting isinya, karena pispot itu kan sebetulnya wadah, jadi termasuk bisa digunakan sebagai wadah air minum, maka jangan masukkan repertoire pengetahuan lalu kita dalam menghadapi segala sesuatu, berpikirlah positif
3. karena kita sudah tahu bahwa pispot itu fungsinya adalah bukan untuk wadah air minum, ketika ditempatkan untuk air minum, orang tidak akan mau dan percaya lagi....gantilah wadahnya...
maksud pesannya apa siiih...penasaran....
(T_T)

Thursday, August 20, 2009

Belajar berumahtangga


Hal yang cukup sulit yang kurasakan selama 'belajar' menjadi seorang istri adalah belajar untuk mengkompromikan ekspektansi tentang "If I do this to him, he should be doing the same amount of that thing to me..." Belajar untuk sadar bahwa setelah 'bulan madu' semua hal yang memang akan kembali berjalan seperti sedia kala, bahwa aku bukan lagi prioritas utamanya 'all the time'...bahwa ia akan kembali sibuk dengan pekerjaannya dan begitu pula saya...mungkin juga jam bersama akan hilang karena ritme jam kerja suami-istri yang berbeda...

Gambaran apa yang seharusnya dilakukan oleh suami-istri mungkin jadi gak sama karena kepala suami dan istri, termasuk isinya, berbeda...mungkin juga sama-sama gak tahu apa yang harusnya dilakukan suami-istri...hihihi...

tapi mungkin yang saat ini menurutku penting dan jadi pegangan adalah bahwa harus belajar sadar, sesadar2nya bahwa pernikahan dan hidup berumahtangga bukanlah tujuan, tapi justru titik awal....

enaknya, belajarnya gak sendiri...learn it together and dont take it for granted...

jangan pernah lupa berkomunikasi, even lewat sms or phone call...

wah, masih jauuuh...rapotannya....masih baru mulai belajar nih...

bismillah...

Aku kehilangan teman


aku merasa teman baikku menjauh

semakin dekat jarak di antara kami

semakin jauh pula ia bergerak pergi

mencoba mencari jalan membuka silaturahim kembali

tetapi ketukan pintuku pun tak dijawabnya

Timbul tanya

berbuat salah terlalu besarkah diriku?

padanya ?

bagaimana aku meminta maaf padanya?

seakan bicara pada sebuah tembok

tepi jurang

dalam ruang hampa

tak berbalas

Cinta Indonesia


Baru aja liat tayangan televisi

Tentang seorang seleb yang kembali membuka resto japan...di jakarta

apakah itu sebuah tanda kecintaan terhadap negerinya ?

kalau semua orang begini, yang kaya akan tetap kaya, yang miskin akan tetap miskin tanpa ada pemerataan...

mengapa tidak membuka resto masakan khas indonesia daerah mana gitu...

di luar negeri pembukaannya lebih bagus lagi, dengan pekerja warga setempat...

sesekali orang indonesia yang jadi manager, jadi 'bos'...

gitu loh baru diberitakan...bukan yang beginian...

Saturday, July 11, 2009

omnivora


sumber daya yang paling berharga tapi kurang dihargai mungkin adalah tenaga kerja ya...
orang bisa gak sayang2 untuk mengeluarkan modal banyak beli sarana kerja tapi sangat tawar menawar dalam mengupah karyawannya...padahal menurutku sarana yang biasa2 aja akan bisa jadi luar biasa dengan kemampuan tenaga kerja yang kreatif...

mungkin sama seperti tenaga kerja yang dilabeli outsource, paruh waktu, lepasan, kontrak, dlsb....
yang kurang diimbangi dengan rasa penghargaan yang layak...
mungkin rasa penghargaan itu gak melulu dalam kurung dikasih keterangan uang, tapi juga berupa hal-hal lain, yang tentunya dibutuhkan oleh sang tenaga kerja, berbentuk diajak rekreasi bersamakah, berbentuk jaminan (atau tunjangan ya namanya?) kesehatankah....atau hal-hal lain yang berguna....

tapi again, ya gitulah...tampaknya suatu kerugian besar kalau harus mengeluarkan uang banyak untuk sang penggerak 'kerja' dibandingkan untuk hal-hal yang tidak bergerak....

samakah dengan memakan daging sodaramu sendiri ?

entah.....

Tuesday, June 30, 2009

Dewasanisasi anak

Kemarin nonton di televisi acara wisuda anak-anak play group yang dibuat dengan prosesi seperti acara wisuda sarjana, lengkap dengan toga dan pakaian kebaya ber-make-up atau jas di balik toganya...

Hampir setiap hari di liburan ini juga ada tayangan di televisi yang berisi permainan ‘tebakan’ lagu yang diisi oleh peserta anak dengan keharusan ‘menebak’ lagu-lagu yang kebanyakan lagu-lagu orang dewasa, yang juga bisa dinyanyikan secara faseeehhh....oleh anak-anak tersebut....

Hari anak nasional sekarang katanya bertema Anak yang cerdas, sehat dan ceria....

Patokan anak cerdas mungkin bisa dilihat dari bertaburannya nilai-nilai di atas 9 dalam skala nilai 0-10 dari yang paling rendah sampai paling tinggi. Dari bejibunnya berita soal prestasi akademis juara olimpiade untuk pelajaran-pelajaran yang top itu lagi-itu lagi... sebelum liburan pun saat pembacaan pengumuman pasti yang diumumkan berprestasi adalah prestasi akademik mencapai nilai sekian, sekian, sekian, paling tinggi ini dan itu dalam pelajaran pelajaran yang itu lagi-itu lagi...

Membaca, mendengar dan menonton hal-hal prestasi itu kok bikin makin sedih ya...ditengah orang-orang yang katanya tau dan paham ada yang disebut multiple intelligence, mengapa jadi supporter teori intelegensi tersebut hanya di ucapan ? Mengapa jarang diberitakan di koran soal prestasi seorang anak yang juara lomba mengarang internasional misalnya, atau lomba menyanyi internasional? Kalaupun lomba menyanyi ditayangkan tapi pasti di bagian/kolom kecil dari surat kabar yang besar itu.... lebih banyak tampil diberita-berita infotainment, bahkan di berita infotainment pun prestasi tersebut pasti disandingkan dengan kata: “juga berprestasi di sekolahnya dengan mendapat rangking 1,2,3....” atau “ juga merupakan lulusan terbaik....” yang ujung-ujungnya ya nilai rata-rata dari pelajaran yang itu lagi-itu lagi....jadi buat apa ada promosi atau sosialisasi soal multiple intelligence itu ???? toh yang namanya anak cerdas sudah terukur oleh satu jenis intelegensi !!!!

Oh ya, mumpung ngobrolin soal kecerdasan, seiring dengan niat salah satu kandidat capres-cawapres untuk memberdayakan sekolah kejuruan....aku berpendapat emang tiap orang diwakili oleh bakat-bakat berketrampilan yang lebih atau kemampuan berteori yang lebih, nah sekolah kejuruan mungkin diperlukan untuk yang lebih baik dalam segi skill praktik dibandingkan skill teori, tapi kok ya kurang dibarengi visi dan misi ke depan soal penyediaan lapangan kerjanya sih ? apa ada sekarang persyaratan yang diajukan oleh perusahaan bahwa ia mencari tenaga kerja yang bukan S1 minimal ? bandingkan berapa banyak ???? ANEEEEHHHH....

Tema yang kedua: anak indonesia yang sehat...sehat apa ? jasmani dan rohani ? apakah masih rutin kegiatan olahraga anak-anak ini ? bagaimana perbandingan kegiatan olahraga dan geraknya dengan kegiatan duduk rapi untuk menulis dan belajar membaca ? Bahkan anak-anak TK pun semakin sedikit waktu geraknya padahal jam masuk sekolah mereka makin panjang....apakah itu akan membuat anak-anak jadi sehat ????? bagaimana sih yang dikatakan sehat itu ????

Terakhir, anak-anak Indonesia yang ceria....ceria dalam gambaran seperti ceria orang dewasakah ???? Mengapa tidak membuat perpisahan anak-anak menjadi acara perpisahan yang ciri khas anak-anak ? mengapa konseptor acara tidak menempatkan diri dari sudut pandang dan pemikiran anak-anak ? apa iya, perlu pakai toga ? perlu dibacakan satu-per-satu namanya ? acara ini untuk orangtua anak atau untuk anaknya ???? kedewasaan anak-anak akan cepat terasa kok tanpa perlu diburu-buru...jadi ceriakan, sehatkan dan cerdaskan mereka sebagai anak-anak....

Kalau acaranya tebak-tebakan untuk anak, ya lagu anak-anak dong yang jadi materi....kekosongan materi lagu anak, ya buat dong, kan ada banyak stok lagu orang dewasa, mengapa tidak juga menambah stok lagu anak ? Kalau bisa menjiplak sinetron2 dewasa, kenapa tidak membuat sinetron2 yang anak-anak ? yang gak perlu dibumbui oleh cinta-cinta/naksir-naksir ?

Kalau wisudaannya anak-anak PG, ya mengapa tidak dengan penampilan bersama, gak perlu ada prosesi yang menyerupai sarjana...tidak cukupkah biaya masuknya saja yang menyerupai biaya masuk universitas ????

Kalau ada pembacaan prestasi ? mengapa tidak selang-seling antara prestasi akademis dan prestasi life skill ? mengapa mengumpulkan prestasi akademis di bagian akhir ditambah pula dengan kata-kata “ akhirnya sampailah pada pengumuman yang paling ditunggu..nilai tertinggi diraih oleh ?????”

UGGGGHHHHHH....

Gak cukupkah orang dewasa yang ada saat ini sehingga perlu menambahkannya dengan anak-anak yang dikostumi ‘pakaian orang dewasa’?????

Friday, May 08, 2009

Laugh out loud

Tadi baru saja nonton suatu acara televisi yang ada embel-embel show-nya.

Agak miris nontonnya karena yang coba di angkat adalah topik serius: KDRT.

Dibahas dalam format talkshow dengan menghadirkan semua aktor utama: ya si pelaku kekerasan, ya si pelaku yang diberlakukan kekerasan terhadapnya; lengkap dengan penonton yang boleh ikutan bertanya or berkomentar pada semua aktornya (kayak nonton adegan interaktif sebuah wayang) untuk membedakan aktor utama dan pembantu diberikan topeng.

hhh....mengapa sepanjang acara yang terjadi justru tertawa sana dan sini, komentar dan pertanyaan juga yang berbentuk tawa (atau aku yang salah melihat raut tawa di muka mereka?)

apa ya tujuan dibuat acara ini ?

apakah untuk memberikan edukasi ?

apakah untuk memberikan informasi ?

atau ya memang show ?

kalau yang terakhir, kenapa yang diangkat topik yang sama sekali bukan untuk show ? melibatkan semua aktor yang bukan aktor ?

Di ujung acara juga tidak ada (at least) pemberian info apapun mengenai boleh/tidaknya tindakan KDRT, dimana bisa mencari pertolongan, saat kapan suatu tindakan disebut KDRT, dll....

Mengapa suka begitu ? mengapa semua hal dianggap bisa dijadikan bahan show (komedi situasi) ?

Sama seperti show lain yang judulnya tukeran...entah, buatku inti show di televisi untuk acara tersebut harusnya lebih pintar, lebih berefek jangka panjang, biar yang nonton ikutan pintar....bukan sekedar memotret kelucuan orang-orang yang diberikan mimpi indah untuk nanti dibangunkan lagi....yang lebih miris acara tukeran itu menyertakan anak-anak, yang kadang belum bisa/siap membedakan mana mimpi mana yang nyata, mana main-main, mana yang serius....

Mengapa tidak membuat dan memotret apa pengaruhnya buat keluarga tersebut (misal: si keluarga kaya yang berperan miskin) selanjutnya. Si ayah yang bos kemudian membuat asuransi kesehatan untuk sang supir, dst....inspirasi tidak timbul dari komedi situasi yang dipaksakan...

Mengapa menginspirasi untuk jadi bodoh secara massal ?

Tuesday, March 10, 2009

menunjuk

aku lagi sebal
orang suka banget menunjuk orang lain
tapi suka lupa pula bahwa dia yang menunjuk juga melakukan hal yang sama dengan yang ditunjuknya
aku lagi sebal
orang suka banget berasumsi dan membuat sendiri skenario dikepalanya
tanpa mau memastikan apakah betul asumsi dan skenario tersebut dengan yang nyata ada
aku sebal banget
orang suka sekali meremehkan orang lain
dan berhitung-hitung untung dan rugi
sampai selalu ketakutan apa-apa
aku sebal sekali
orang suka hanya memandang dan berbicara dari diri sendiri dan lupa ada persepsi lain dari satu cerita
UUUUGGGGGHHHHHH!!!!!!!

Wednesday, March 04, 2009

tentang suamiku


aku menyukai dua matanya yang indah
berbinar cerah ketika tertawa
aku menyukai cara tuturnya yang santun
mengalir tenang penuh makna
aku menyukai desah nafasnya yang hangat
menimbulkan gairah yang membara
aku menyukai harumnya yang alami
menenangkan sekali berada di dekatnya
aku menyukai sosoknya yang sederhana
membuatku selalu bersyukur atas cintanya
mencintainya
membuatku mencintai diriku
membuatku mencintai penciptaku
membuatku mencintai cinta

Thursday, February 26, 2009

persepsi

ada orang yang selalu mempersepsikan semua pikiran, tindakan dan hasil perbuatannya adalah positif
ada yang sebaliknya
bagaimana cara menghadapi suatu peristiwa ya?
sejauh mana usaha kita?
bagaimana kita bisa menilai gagal dan berhasilnya suatu hal ya?
apakah melulu proses yang akan menentukan?
saat dimana sih kita dibilang putus asa ?
saat kapan juga dikatakan bahwa usaha kita gagal?
kalau semua itu dilakukan pada manusia sebagai 'produk'
dengan ilmu yang terbatas
lalu manusia selalu berkembang
bagaimana kita bisa tahu yang kita lakukan sudah tepat atau salah?
ukuran tepat dan salah itu mengacu pada kita atau pada produknya ?
apakah akhirnya intuisi yang akan menuntun?
apakah kita betul-betul bisa membantu orang lain ?
UGHHHH!